Urus-urus Keberangkatan Mahasiswa Indonesia ke Belanda
Agustus 4, 2008 on 10:42 am | In Uncategorized | No CommentsWeekend lalu, tepatnya Sabtu 2 Agustus, saya kebagian tugas dari kantor (Neso Indonesia) untuk urus-urus persiapan keberangkatan sekitar 300 mahasiswa Indonesia yang akan kuliah ke Belanda. Acara dimulai dari pukul 9.00 pagi sampai pukul 16.30, di Eramus Huis, Kedutaan Belanda. Beberapa tamu VIP seperti wakil duta besar Belanda, Ad Koekoek; mantan menteri pendidikan nasional, Bpk. Wardiman, dan Bpk. Muchlas Samani yang mewakili Bpk. Fasli Djalal, dan ada juga Bpk. Jauhari Oratmangun mewakili dubes Indonesia untuk Belanda yang jauh-jauh datang dari Den Haag.
Auditorium Erasmus Huis penuh dipadati calon-calon mahasiswa yang sepertinya antusias mempersiapkan diri untuk segera berangkat. Mereka ini ada yang melanjutkan program bachelor, master, short courses dan PhD di Belanda. Ada yang berangkat dengan biaya sendiri, perusahaan tempat bekerja, departemen dan juga beragam beasiswa dari pemerintah Belanda seperti StuNed, NFP, Huygens.
Saya juga kebagin tugas untuk mengundang Butet Kartaredjasa menjadi pembuka acara pagi itu. Mendampingin Mas Butet sampe di belakang panggung (maklum saya memang spesialis orang belakang panggung hehehe), membuat saya jadi ikut deg-degan. Apalagi melihat Mas Butet menarik nafas panjang beberapa kali sebelum MC memanggil. Fuih…kebayang harus ada di stage sebesar itu dengan audiense yang sangat beragam dan berasal dari sabang sampai merauke…
Persis 20 menit Mas Butet membawakan monolog, yang sepanjang pertunjukan tidak berhenti memperoleh sambutan tepuk tangan dan tawa dari audiense termasuk tamu-tamu VIP. Pesan-pesan inti untuk calon mahasiswa diantaranya harus mempersembahkan dan membuktikan yang terbaik sebagai duta Indonesia di Belanda, semangat pantang mundur dan yang terpenting anti korupsi disampaikan dalam monolog yang sangat khas Mas Butet, ringan dan mengena bagi seluruh audiense.
“Gimana saya tadi,” itu pertanyaan pertama saat Mas Butet menghampiri saya sesudah pentas dan menghisap sebatan rokok. “apik mas, oke banget tadi, saya liat dari belakang semua audiense menikmati, thank you mas,” jawab saya. Monolog Mas Butet benar-benar menjadi pembuka yang segar untuk mengawali sesi-sesi pre-departure briefing selanjutnya.
Dan yang juga seru, Pak Djauhari dari KBRI di Belanda membuka sambutannya dengan mengajak seluruh audiense menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki…saya ikut menyanyi dan sedikit bangga saya masih hafal lho lagunya, tapi melongok ke arah audiense…ada banyak juga lho yang nggak ikutan nyanyi. Well mudah-mudahan karena memang sedang tidak mood untuk menyanyi, jadi bukan karena tidak hafal atau bahkan jangan-jangan nggak tau lagu rayuan pulau kelapa ya?
Selepasas sesi seremoni dengan tamu-tamu VIP. Neso memberikan satu sesi pelajaran bahasa Belanda singkat yang dibawakan oleh Dick. Sesi 40 menit ini memberikan warna lain dan pengetahuan baru bagi calon-calon mahasiswa karena ternyata banyak bahasa Indonesia yang terdengar dan memiliki arti sama dengan beberapa kata dalam bahasa belanda seperti handoek-handuk, tekort=tekor, wastafel=wastafel, dag = daaa, knalpot=knalpot dan masih banyak lagi. Termasuk juga sebutan untuk om, tante, oma dan opa yang juga merupakan bahasa Belanda. Sebagian audiense tertawa dengan air muka ‘oo ternyata itu bahasa belanda toh’.
Tiba di sesi makan siang yang dipergunakan oleh calon-calon mahasiswa untuk bertemu dengan lebih dari 50 alumni berbagai universitas di Belanda untuk bertukar informasi mengenai pengalaman tinggal dan studi di Belanda. Selama 1,5 jam calon-calon mahasiswa dan alumni berada di luar gedung Erasmus Huis, dibawah tenda. Berkumpul sesuai dengan universitas atau kota tujuan masing-masing. Setelah hampir 2.5 jam berada di ruang ber-ac dan di sesi ini mereka terpaksa harus menikmati panas dan teriknya matahari Jakarta. Lumayan, keringat pasti berhamburan berebut keluar hehehe, sebagin terlihat tidak nyaman karena panas, sebagian terlihat menikmati dengan berlindung dibawah pepohonan di halaman belakang kedutaan.
“Wah enaknya, kayak masuk dalam kulkas,” itu komentar hampir seluruh peserta ketika acara dilanjutkan kembali di dalam auditorium Erasmus Huis.
Informasi tentang mental preparation disampikan juga oleh para alumni dalam bentuk sketch. Sejumlah alumni meluangan waktu untuk berlatih bersama untuk membuat pertunjukan ini menjadi menarik. Skecth menampilkan pengalam beberapa mahasiswa Indonesia setibanya di Belanda dan dituntut untuk dapat beradaptasi denga berbagai kondisi yang tidak ditemui di Indonesia. Seperti yang paling simple adalah tidak ada porter di airport, semua harus mengangkat barang-barangnya sendiri…hmmm mungkin tidak seperti di Indonesia yang jumlah porter kadang lebih banyak dari jumlah penumpang pesawat hahaha. Bahkan ditampilkan juga dalam sketch bagaimana sebaiknya mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda seperti harus tepat waktu, berani mengemukakan pendapat dan yang terpenting bergaul dengan mahasiswa asing lainnya. Jangan bikin kampung melayu di Belanda, gitu pesan alumni yang digawangi oleh Sylvi, alumni penerima beasiswa StuNed 2001.
Intinya di pre-dep ini informasi dari A sampe Z dibagi ke calon-calon mahasiswa. Dan pesan lainnya yang juga gak kalah penting adalah terus berlatih bahasa Inggris karena emang studi di Belanda pakai bahasa Inggris. Bisa bahasa Belanda jadi nilai tambah setelah kembali.
So, last saturday was tiring tapi sekaligus melegakan karena overall the event went well…itu kata saya sebagai salah satu panitia hehehe
Selamat Datang di dagdigdug
Juli 31, 2008 on 8:34 am | In Uncategorized | 1 CommentSelamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez. Theme pack from WPMUDEV by Incsub.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^